Author Archives: Husna Fadhila

About Husna Fadhila

"Orang Lemah yang Optimis, Lebih Baik daripada Orang yang Mampu namun Pesimis. Optimis Dapat Mengubah Kelemahan menjadi Sebuah Kekuatan. " Tetap Semangat untuk menjadi Pribadi yang Lebih Baik

Togaku

Standar

Biarlah ku ucap cintaku padamu

Demi kesempurnaan cinta dalam kalbu

Ku lampaui semua demi dirimu

Kekasih hati, laki-laki imam keluargaku

Apa kataku?

Ku kejar toga bukan ku ingin sombong bahkan ingin dipandang

Ku raih sarjana atau lebih bukan tuk mengunggulimu

Bukan lagi ku kejar dunia tuk kaya harta

Imamku, sang penyejuk hati

Aku wanita, karena itu aku harus jadi permata

Wajib jadi guru mendidik penuh cinta

Jadi ibu penuh kasih cinta

Tuk dirimu dan anakk-anak kita

Bukan tuk mengungguli,

Tapi tuk belajar

Karena..

“Anak2ku berhak dilahirkam dari rahim Ibu yang cerdas*

Iklan

Biar, Pemuda Kataku

Standar

Apa?, Kenapa dikata pemuda?

Hanya dibuat mencari muka

Diam tiada kata, kata hanya tertawa

Bicara, menceloteh tiada makna

Esensi pemuda?

Apalah pemuda?

Carilah.., jadilah pemuda

Yang kata penerus bangsa

Pemuda?

Kau..paksalah bunuh pikiran apatis

Buanglah rasa egois

Bantai jiwa-jiwa negatif

Biar…pemuda kataku

Pemuda bicaranya pengharum bangsa

Yang teriakannya mencipta sejahtera

Untuk bangsa hingga tiada rakyat jelata

Yang ada bangsa makmur sentosa

#BangunPemuda

Jatuh Hati

Standar

Laki-laki berpeci, berbaju panjang, serta khas sarung panjangnya..semua serba putih

Kuabaikan wajahnya..

Entah tampan atau tidak..

Yang ku tau, aku jatuh hati padanya

Ia bukan lelaki berjas berdasi

Tak pula berdompet tebal dengan segudang kekayaan

Jatuh hati ini..

Cukuplah sederhana..

Tanpa kutau parasmu..

Kulihat punggungmu, kala kau lantunkan senandung Al Qur’an

Kala kau panggil sesamamu tunaikan ibadah dirumahNya nan ketenangan yang menyelimuti

Kau yang tak lelah membumikan sholawat..ya Rasulullah

Jatuh hati ini,

Kala kau luluh lantahkan hati yang terkujur keras ini

Lantunan yang menyerang qalb ini..

Meretakkan hatiku yang membeku

Memberi seberkas cahaya dalam diri

Ya Rabb..

Sungguh cintaku tercurah padaMu dan RasulMu..

Ijinkan pula, kusempurnakan ibadahku bersamanya

Laki-laki seserhana yang tanpa ia ketahui selalu ku kirim doa sujudku untuknya..

Yang dengan diam aku menantinya

Yang sampai kali ini kubungkus hatiku untuk dirinya

Ijinkan dalam diamku, kutatap parasnya, kudengarkan suara merdunya

Dalam doaku

Biarlah cinta ini menggema

Bersama kesucian diri

Aku berserah hanya kepadaMu

Tuhanku sang pemilik hati

Pemuda Apa?

Standar

Ku lalui jalan setapak nan berliku

Menjelajahi rimbunan pohon nan sepi

Manusia tiada menampakkan diri

Sendiri menghirup udara sunyi

Bagai apa diri ini tak berarti

Badan bagai ditusuk pedang teriris hati

Aku…

Apalah arti diriku

Nafas berhembus mendalam kalbu

Aku..aku siapa

Pemuda apatis penuh dosa

Berkata bohong penuh dusta

Harusnya dulu jujur berkata

Apa…sekarang aku ini?

Pemuda diam tertahan diri

Duduk diam tak berarti

Hingga berlalu hidup tersayat mati

Tinta Jiwa

Standar

Hati getar terasa berbicara

Ketakutan, khawatir dan kini duka

Siksa kala itu bertarung dalam derita

Berada dalam gelapnya kata keluarga

Doaku semoga Tuhan selalu ada

Dalam langkahku bahagia atau air mata

Jasmani bagai hanya bayang tiada makna

 

Tahun-tahun berprofesi penuh tangisan

Pilu dalam kebisuan

Hati dingin dalam harapan

Mencoba tetap hidup walau ketakutan

Di mana saja aku membutukanMu Tuhan

 

Kala itu, duka, air mata

Hingga waktu berbicara

harusnya dari dulu aku paksa bahagia

Kenapa dulu harus berlinang airmata

Karena harapan dan cita-cita hanya angan belaka

 

Malu….harusnya dulu aku bersyukur bahagia

Kala musibah, keluarga bagai hancur seperti apa

Pengecut dalam tangis hampa

Bisu tanpa progres belaka

Anggapku cinta, kasih telah sirna

Karena pisahnya ayah bunda

 

Ternyata ini jawaban Tuhan pada hambanya

Bahagia ternyata mudah adanya

Keluarga bukan hanya kata saudara

Keluarga adalah teman berbicara

Keluarga juga kawan bekerja

Keluagapun tetangga berbagi suka duka

 

Keluarga bukan hanya kata kawan

Jangan jadikan masalah sebagai hambatan

Kita belajar agar kita paham akan kehidupan

hal terbaik kini adalah bersyukur pada ketetapan

Tetap hibur diri tuk lembar-lembar pengorbanan

Tetap yakin rencana terindah dari Tuhan

 

Puisi untuk Putra

Standar

Satu hari berpisah denganmu

Satu hari kamu berjalan selangkah di depanku

 

Baru aku sadar…

Toga dan selempang tertuliskan “terbaik”

Membuatku bangga sebagai seorang…entahlah

 

Sahabat akademikku, Putra

Dulu aku  egois

Dulu aku apatis

Kulupakan sahabat sehebat dirimu..

Dulu..waktu bagai kejam menghapus jejak memoriku

 

Satu hari waktu berlalu

Tersadar kata perpisahan

Kan jauh dari pandangan seorang sahabatku..Putra

 

Laki-laki berparas Korea itu benar membuatku jatuh

Jatuh akan kekaguman kacamata nuranimu

Jatuh akan kekaguman kacamata pengetahuanmu

Jatuh akan perjuangan mencapai titik meraih toga mahasiswa terbaik

 

Putra, Sahabat Akademikku..

Mungkin hanya pribadi ini yang  menganggap sampean sahabat,.

Namun biarlah diriku seperti ini

Sukses..doaku untukmu..

Sahabatku putra..(…-..-024)

Sesalku Tiada Hari Esok

Standar

Harusnya aku sadar dari dahulu…

Hingga tak akan pernah ada masa-masa suram yang berlalu

Hingga dulu aku dapat mendengar merdunya kicauan burung itu

Dapat melihat indahnya dunia dengan berbagai pesonanya

 

Andai aku sadar dari dulu…

Mungkin aku tak akan merasa hati sekeras batu

Tutur kata setajam pedang

 

Andai aku sadar dari dulu

Mungkin aku dapat seperti yang lain

Bisa mengenyam pendidikan, duduk di kursi kayu sekolah

Aku dapat berpikir kritis,

Aku dapat bersikap baik..

 

Tapi itu andai..

Umurku tenggelam dalam pesona duniawi

Bersenang-senang menghabiskan pagi ataupun malam

 

Andai aku berpikir lebih jauh..

Aku akan tinggalkan dunia ini dengan kebahagiaan..

Kini waktuku telah usai

Nafasku telah terhenti

Tak ada lagi rasa bahagia dunia

mata kini terpejam tuk selamanya..

Hingga kini…sesalku tiada hari esok.