Author Archives: Al Khusna Fadhila

About Al Khusna Fadhila

Success is going the Extra miles, tidak berhenti pada keadaan, hidup lebih indah dengan berani bermimpi

Surat Cintaku

Standar

Bersyukurnya diriku berdampingan dengan tetesan air mata kerinduan

Pancaran wajah indah, terbayang kembali dalam angan diri

Suara khas bersholawat itu terindukan dalam sanubari

Bila berkesempatan…aku ingin kembali memeluk, mencium kembali sang pengisi hati

Benar sejujurnya…aku terlanjur jatuh cinta

Rinduku bagai tiada terbendung

Perpisahan itu yang menyesakan hati, membutakan mata

Rindu yang seringkali membuat jatuh butiran air mata

Sayat-sayat suaranya yang menentramkan kalbu itu, aku rindu..benar-benar rindu

Aku jatuh cinta hingga begitu sulit tuk bangkit melupakannya

 

Gusti Allah..

Aku merindukannya

Jemarinya yang dahulu mencium tanganku dengan sopan, dengan lembut sembari mengucapkan Assalamualaikum

Tetap setiaku menanti kesempatan bertemu sang pujangga hati

Obat penenang ceritan dalam diri

Sang cinta yang tak kusanggka telah bersemayam dalam pribadi

Suaranya dalam belajar tuk beribadah padaMu ya Allah

Geraknya, sikap lembutnya…menentramkan jiwa dan ragaku

Aku yang merindukan tangis, tawa, suara, segalanya yang ada pada dirimu

 

Ya Rabb

Jatuh cinta ini sangat berbeda dan sangat mendalam membekas dihati

Kerinduan ini teringat saat ia bersholawat “Ya Rasulullah salamun alaik..ya Rofii asya ni wadarojii……”

Sangat jelas aku mendambakannya

Cintaku pada sikap mereka yang tiada malu belajar menuntut ilmu..

Belajar beribadah kepadaMu ya Rabb

 

Cintaku..

Anak-anak Madrasah Diniah yang telah berhasil merenggut rasa cinta dan kasihku

Cintaku begitu besar hingga kalian selalu terbayang..susah tuk terlupakan..

 

Ternyata inilah rasa cinta..bukan untuk laki-laki idaman namun cinta itu untuk anak-anakku yang berhasil membuatku takluk kagum dengan ilmu, kegigihan mereka..

Teruntuk cinta kasihku: Santri-santri Madrasah Diniah (MADIN) Al Hikmah, Dsn. Krajan, Ds. Karangmojo, Klego Boyolali

 

 

Karena Perempuan Itu Istimewa

Standar

Dalam perjalanan hidup ini, Husna sering dihadapkan dengan segala hal. Dulu, Husna sering mengeluh pada segalanya. Kenapa hidup Husna seperti ini, kenapa tidak seperti mereka, kenapa seperti ini, itu…

Seiring berjalannya waktu..jawaban itu mulai terbuka sedikit demi sedikit.

Sungguh yang Husna rasakan ketika dekat dengan Gusti Allah membuat Husna selalu terasa tenang.

Jauh berbeda ketika dulu ketika iman Husna turun, dan segalanya terasa sulit.

Dan teringat selalu, tiap Husna menengadahkan tangan. Husna sering meminta untuk didekatkan pada segala kebaikan dan dijauhkan pada segala keburukan. Termasuk soal asmara.

Berpacaran?

Dulu Husna pernah berpikiran demikian. Namun ternyata waktu yang menjawab, dan Gusti Allah ternyata membenci hal tersebut. Dan cukuplah.

Doa Husna, semoga dapat diistiqomahkan untuk menjadi perempuan yang jauh lebih baik untuk masa yang akan datang. Teruntuk ibadah kepada Allah, untuk jodoh Husna, serta untuk anak-anakku kelak.

Beberapa pertanyaan yang dilontarkan.

Kenapa Husna harus berhijab?

Karena Aurat berhak hanya untuk mahramku. Pelan-pelan tapi pasti InsyaAllah.

Kenapa perempuan harus berpendidikan tinggi?

Karena perempuan adalah madrasah pertama untuk anak kita kelak.

Kenapa harus jadi sholeha?

jawabannya, bila belum menikah semoga mendapatkan jodoh yang soleh, remember jodoh kita adalah cerminan diri kita. Tak perlu berpikir terlalu tinggi yang penting sesuai dengan apa yang dapat kita gapai dan jalani. InsyaAllah akan dimudahkan segalanya

Bila sudah menikah, insyaAllah dapat menyempurnakan ibadah suami kita

Sama-sama saling mengingatkan, dan selagi ada kesempatan, ayo ukhti, sahabatiku..mari bersama berjuang, belajar menjadi seorang wanita yang sesuai dengan apa yang Allah perintahkan. Dan semoga segalanya dapat diberi kelancaran. Aamiin.

Karena Mereka

Standar

Ketiga sosok itu yang semakin lama membuatku takut. Satu orang berumur 25 tahun dengan tinggi badan sekitar 168’an berkulit sawo matang dan berbadan standar (tidak gemuk juga tidak kurus). Yang satu berumur 22 tahun berbadan gemuk dan tinggi sekitar 165’an. Dan laki-laki terakhir berbadan kurus dengan tinggi 171.

Mereka bertiga yang aku semakin lama makin mengenal mereka semakin membuatku khawatir, tiap kali mengingat mereka bagai badan ini gemetar dan sering pula sampai meneteskan air mata. Tetesan air mata karena sikap, perilaku mereka padaku.

Hal yang tak pernah terbayang di diriku dapat aku dapatkan. Ada apa dengan mereka…

Kenapa pula gusti Allah mempertemukan aku dengan mereka bertiga..

Karena mereka pula aku bagai tak pernah bisa bebas di duniaku sekarang ini.

 

Kriwul, Laki-laki yang aku kenal 4 tahun lalu. Dia adalah laki-laki pertama yang aku kenal. Laki-laki yang paling sering membutku jengkel pada apa yang ia lakukan. laki-laki yang sering membuat aku menangis. Dari ketiga laki-laki tersebut dialah yang paling teringat dalam pikiranku.

Ndut, laki-laki ini yang sering mengajakku emosi karena egonya, sikapnya, perkataannya, sifatnya, dan segala hal yang selalu membuat aku semakin memanas tiap kali bertemu dengannya. Dulu sering aku menarik rambutnya karena kejengkelanku padanya.

Cungkring, laki-laki ini bagai lawan tandingku. Ketika berdiskusi dengan teman lain dialah yang paling ingin aku kalahkan. ya..meski dia pintar dalam berdialegtika tapi aku harus lebih pintar darinya. ya I can do!!!

 

Gusti Allah Maha Adil, dan Maha Segalanya..

Thanks Allah, Ya Rabb. My Love, My God

 

Ketiga laki-laki yang sering membuatku jengkel, marah, hingga menangis adalah sahabat-sahabatku.

Bersyukurnya aku dipertemukan dengan mereka bertiga. Sesosok yang menghiburku hingga seringkali aku harus meneteskan airmata karena bahagiannya aku.

Setelah hampir empat tahun ini aku bersama mereka dan tinggal menunggu waktu tuk wisudaku. Harapanku adalah aku tetap bisa bersama mereka. Sosok hebat yang selalu mengagumkan, menjengkelkan, dan menarik.

Bila boleh aku meminta… aku tak ingin waktu berputar cepat. Aku tak ingin dipisahkan oleh pahlawan, keluarga, saabatku. Kalian bertiga yang selalu mengisi kekosongan dalam hidupku. Thanks All. 

#P.M #M.R #A.W.U.Z

 

Ketenanganku Karena Dekat denganNYA

Standar

Saat-saat aku meneteskan mata karena sebuah hal tak berguna utamanya soal asmara adalah sebuah kebodohan.

Doa ini teruntuk pada pribadi agar senangtiasa dijauhkan pada segala keburukan dan didekatkan pada segala kebaikan.

 

Menjadi seorang wanita, Salahkah?

Tak ada yang pernah salah, kita dilahirkan menjadi seorang wanita karena semua telah  menjadi hal terbaik yang diberikan Gusti Allah.

 

Hai Sahabatiku..

Kita adalah seorang wanita. Segala pilihan ada ditangan kita termasuk soal asmara.

Banyak Adibah temui dan bahkan pernah saya rasakan sendiri. “Jatuh Cinta pada seorang Pria”, Salahkah?

Tak ada yang salah apabila kita jatuh cinta pada seorang laki-laki. yang salah adalah ketika seorang perempuan memaksakan diri untuk diterima oleh seorang laki-laki yang bukan mahram.

 

Sahabatiku…

Melalui sedikit tulisan ini, Adibah hanya mengajak kepada sahabatiku agar kita senantiasa menjaga apa yang memang harus kita jaga. Jaga kita dari Zina. Ingat… di dunia ini wanita sholehah adalah sebaik-baik perhiasan dunia.

Keep Fight untuk menjadi lebih baik lagi.

Yuk saling mengingatkan untuk menjadi wanita yang hebat khususnya disisi Ibadah kepada Allah. Ingat…jodoh kita adalah cerminan diri kita..

yuk berubah sedikit demi sedikit.. semoga gusti Allah selalu menuntun kita kepada kebaikan.

#bersambung

 

Note: Adibah Husna

Cinta, kasih, dan Rinduku

Standar

img_4808

Cinta hanyalah secuil kata. Yang membuat berat hati adalah karena adanya pertemuan, karena tiap ada pertemuan akan ada sebuah perpisahan. 10 Januari 2017,  pertemuan ini yang memberatkan karena dihujung pandang terlihat meski masih samar akan adanya perpisahan. Kata rindu pasti kan terasa tiap saat aku terbangun dalam lamunan.

Kuliah Kerja Nyata (KKN) tahun 2017. Di mana cinta itu tumbuh, harapan dan kerinduan tiap waktu membuat tak mampu akan berpisah. Bagaimana mungkin aku dapat berpindah meninggalkan kenangan yang membuatku jatuh hati? Mungkinkah rinduku masih bertahan dalam perpisahan? Kini rasaku makin mengucur tak tertahankan, saat-saat kekaburan lalu telah jelas dipelupuk mata. “perpisahan”, berat rasa hati meninggalkan cinta, kasih, dan rinduku di sini. Terbuai dalam masa depan akan perjuangan yang harus diraih.

Cinta, kasih, dan Rinduku teruntuk pada kalian posko 35, 34, dan 36. Keluarga besar KKN 2017 Desa Karangmojo. Kuatkah perpisahan ini terlewati?. Harapan ini masih saja terngiang. Seorang keluarga tetaplah keluarga. Desa di seberang bukanlah hambatan. Meski jarak dan waktu memisahkan, namun silaturahim tetap berpegang teguh.

Cinta, kasih, dan rinduku pada kalian karena telah menjadi guru, ustadz/ ustadzah yang memberikan cambuk pelajaran yang tiada dapat ternilai.

Cinta, kasih, dan rinduku pada kalian karena telah menjadi motivator dalam aku melangkah, dari dalam diam menjadi seorang manusia yang lebih manfaat.

Cinta, kasih, dan rinduku pada kalian sahabat-sahabatku. Semoga Allah mempertemukan kita disyurga Allah kelak, dan Allah menjaga kalian dari segala yang haram, dan mendekatkan kalian pada sesuatu yang diridhoi Allah dan bermanfaat untukmu, Sahabat-sahabatku.

Cinta, kasih, rindu, dan Doa’ku pada kalian.

Syukron untuk 45 hari yang bermanfaat ini…

 

Note: Adibah Husna 20 Februari 2017

 

“Apapun Agamanya Indonesia Tetap Satu Jua”

Standar

kerukunan umat beragama

“Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu jua.” Sebuah semboyan yang tidak asing di telinga kita, orang-orang Indonesia. Indonesia sebuah negara yang memiliki banyak ciri khas, perbedaan kebudayaan, hingga perbedaan kepercayaan.

Sebagai seorang warga Indonesia yang baik, sudah sepatutnya kita mengamalkan semboyan tersebut. Tidak ada kata pertengkaran karena berbeda pemahaman, warna kulit, kasta, kepercayaan. Negara ini akan damai dengan adanya sifat toleransi apalagi kalau berhadapan dengan masalah kepercayaan “Agama”. Begitu banyak agama yang ada di negara tercinta ini. Namun apapun agamanya Indonesia tetap satu jua.

Toleransi beragama digambarkan oleh Muhammad Muttaqun yang telah berhasil memenangkan juara lomba foto yang diadakan Kementrian Agama Republik Indonesia bertemakan “Kerukunan Umat Beragama” dan mendapatkan hadiah uang tunai 30 juta.

Sumber gambar: http://www.indofnesia.com/dof-mengukir-prestasi-tingkat-nasional/ di akses :31 Maret 2016 11:50

 

Cetak Kader Militan dan Loyal

Standar

Jumat (25/3), Pelatihan Kader Dasar (PKD) Rayon Dakwah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Djoko Tingkir Kota Salatiga dimulai. PKD dengan tema “Mencetak Kader yang Militan dan Loyal Sesuai Tuntunan Ahlusunnah Wal Jamaah”” ini dibuka oleh ketua Cabang PMII Kota Salatiga, sahabat Anto Prima Atmaja.

Kegiatan ini bertempat di Pondok Pesantren An-Nur, Candirejo Tuntang, Kabupaten Semarang. Pelatihan ini diadakan dengan tujuan untuk menciptakan kader bangsa yang progresif bagi kaum muda/mahasiswa Indonesia. Tujuan lain pelatihan ini adalah “menumbuhkan Paradigma Kritis Transformatif” yang terealisasikan oleh peserta dalam pendalaman 8 materi dalam kegiatan tersebut.

Materi itu di antaranya: “Analisa diri dan analisa sosial,  Ahlusunnah wal jamaah, nilai dasar pergerakan (NDP), paradigma PMII, studi gender dan feminisme, sejarah ideologi dunia (SID), antropologi kampus, serta keorganisasian dan menejemen aksi”.

Diikuti 24 peserta yang berasal dari 17 peserta dari Rayon Dakwah, 3 perwakilan dari Rayon Syariah, 2 dari Rayon Ekonomi Bisnis Islam (REBI), 1 Rayon Tarbiyah Mathori Abdul Djalil (MAD), serta 1 perwakilan dari Rayon Ushuludin Adab dan Humaniora.

Tidak hanya untuk meningkatkan daya kritis peserta, namun juga mengajak peserta untuk menerapkan secara langsung asas Tauhid, Habluminallah, Habluminannas, serta Hablumminal alam yang secara tidak langsung telah terangkum dalam materi Nilai Dasar Pergerakan (NDP). Salah satu penerapannya, peningkatan asas Hablumminallah di antaranya sholat berjamaah, dan ziarah kubur. .

Harapan adanya kegiatan ini yaitu dapat mencetak kader yang nantinya dapat menjadi mahasiswa yang lebih aktif dan serius dalam berorganisasi maupun dalam berkuliah, “peserta lebih aktif dalam berorganisasi dan lebih serius, tidak seperti halnya kuliah pulang-kuliah pulang” ucap ketua Rayon Dakwah, Muhammad Rifngani. 

 

by: eLKaJe PM11′ Al Khusna F.