Category Archives: Tak Berkategori

Surat Cintaku

Standar

Bersyukurnya diriku berdampingan dengan tetesan air mata kerinduan

Pancaran wajah indah, terbayang kembali dalam angan diri

Suara khas bersholawat itu terindukan dalam sanubari

Bila berkesempatan…aku ingin kembali memeluk, mencium kembali sang pengisi hati

Benar sejujurnya…aku terlanjur jatuh cinta

Rinduku bagai tiada terbendung

Perpisahan itu yang menyesakan hati, membutakan mata

Rindu yang seringkali membuat jatuh butiran air mata

Sayat-sayat suaranya yang menentramkan kalbu itu, aku rindu..benar-benar rindu

Aku jatuh cinta hingga begitu sulit tuk bangkit melupakannya

 

Gusti Allah..

Aku merindukannya

Jemarinya yang dahulu mencium tanganku dengan sopan, dengan lembut sembari mengucapkan Assalamualaikum

Tetap setiaku menanti kesempatan bertemu sang pujangga hati

Obat penenang ceritan dalam diri

Sang cinta yang tak kusanggka telah bersemayam dalam pribadi

Suaranya dalam belajar tuk beribadah padaMu ya Allah

Geraknya, sikap lembutnya…menentramkan jiwa dan ragaku

Aku yang merindukan tangis, tawa, suara, segalanya yang ada pada dirimu

 

Ya Rabb

Jatuh cinta ini sangat berbeda dan sangat mendalam membekas dihati

Kerinduan ini teringat saat ia bersholawat “Ya Rasulullah salamun alaik..ya Rofii asya ni wadarojii……”

Sangat jelas aku mendambakannya

Cintaku pada sikap mereka yang tiada malu belajar menuntut ilmu..

Belajar beribadah kepadaMu ya Rabb

 

Cintaku..

Anak-anak Madrasah Diniah yang telah berhasil merenggut rasa cinta dan kasihku

Cintaku begitu besar hingga kalian selalu terbayang..susah tuk terlupakan..

 

Ternyata inilah rasa cinta..bukan untuk laki-laki idaman namun cinta itu untuk anak-anakku yang berhasil membuatku takluk kagum dengan ilmu, kegigihan mereka..

Teruntuk cinta kasihku: Santri-santri Madrasah Diniah (MADIN) Al Hikmah, Dsn. Krajan, Ds. Karangmojo, Klego Boyolali

 

 

Iklan

Karena Perempuan Itu Istimewa

Standar

Dalam perjalanan hidup ini, Husna sering dihadapkan dengan segala hal. Dulu, Husna sering mengeluh pada segalanya. Kenapa hidup Husna seperti ini, kenapa tidak seperti mereka, kenapa seperti ini, itu…

Seiring berjalannya waktu..jawaban itu mulai terbuka sedikit demi sedikit.

Sungguh yang Husna rasakan ketika dekat dengan Gusti Allah membuat Husna selalu terasa tenang.

Jauh berbeda ketika dulu ketika iman Husna turun, dan segalanya terasa sulit.

Dan teringat selalu, tiap Husna menengadahkan tangan. Husna sering meminta untuk didekatkan pada segala kebaikan dan dijauhkan pada segala keburukan. Termasuk soal asmara.

Berpacaran?

Dulu Husna pernah berpikiran demikian. Namun ternyata waktu yang menjawab, dan Gusti Allah ternyata membenci hal tersebut. Dan cukuplah.

Doa Husna, semoga dapat diistiqomahkan untuk menjadi perempuan yang jauh lebih baik untuk masa yang akan datang. Teruntuk ibadah kepada Allah, untuk jodoh Husna, serta untuk anak-anakku kelak.

Beberapa pertanyaan yang dilontarkan.

Kenapa Husna harus berhijab?

Karena Aurat berhak hanya untuk mahramku. Pelan-pelan tapi pasti InsyaAllah.

Kenapa perempuan harus berpendidikan tinggi?

Karena perempuan adalah madrasah pertama untuk anak kita kelak.

Kenapa harus jadi sholeha?

jawabannya, bila belum menikah semoga mendapatkan jodoh yang soleh, remember jodoh kita adalah cerminan diri kita. Tak perlu berpikir terlalu tinggi yang penting sesuai dengan apa yang dapat kita gapai dan jalani. InsyaAllah akan dimudahkan segalanya

Bila sudah menikah, insyaAllah dapat menyempurnakan ibadah suami kita

Sama-sama saling mengingatkan, dan selagi ada kesempatan, ayo ukhti, sahabatiku..mari bersama berjuang, belajar menjadi seorang wanita yang sesuai dengan apa yang Allah perintahkan. Dan semoga segalanya dapat diberi kelancaran. Aamiin.

Karena Mereka

Standar

Ketiga sosok itu yang semakin lama membuatku takut. Satu orang berumur 25 tahun dengan tinggi badan sekitar 168’an berkulit sawo matang dan berbadan standar (tidak gemuk juga tidak kurus). Yang satu berumur 22 tahun berbadan gemuk dan tinggi sekitar 165’an. Dan laki-laki terakhir berbadan kurus dengan tinggi 171.

Mereka bertiga yang aku semakin lama makin mengenal mereka semakin membuatku khawatir, tiap kali mengingat mereka bagai badan ini gemetar dan sering pula sampai meneteskan air mata. Tetesan air mata karena sikap, perilaku mereka padaku.

Hal yang tak pernah terbayang di diriku dapat aku dapatkan. Ada apa dengan mereka…

Kenapa pula gusti Allah mempertemukan aku dengan mereka bertiga..

Karena mereka pula aku bagai tak pernah bisa bebas di duniaku sekarang ini.

 

Kriwul, Laki-laki yang aku kenal 4 tahun lalu. Dia adalah laki-laki pertama yang aku kenal. Laki-laki yang paling sering membutku jengkel pada apa yang ia lakukan. laki-laki yang sering membuat aku menangis. Dari ketiga laki-laki tersebut dialah yang paling teringat dalam pikiranku.

Ndut, laki-laki ini yang sering mengajakku emosi karena egonya, sikapnya, perkataannya, sifatnya, dan segala hal yang selalu membuat aku semakin memanas tiap kali bertemu dengannya. Dulu sering aku menarik rambutnya karena kejengkelanku padanya.

Cungkring, laki-laki ini bagai lawan tandingku. Ketika berdiskusi dengan teman lain dialah yang paling ingin aku kalahkan. ya..meski dia pintar dalam berdialegtika tapi aku harus lebih pintar darinya. ya I can do!!!

 

Gusti Allah Maha Adil, dan Maha Segalanya..

Thanks Allah, Ya Rabb. My Love, My God

 

Ketiga laki-laki yang sering membuatku jengkel, marah, hingga menangis adalah sahabat-sahabatku.

Bersyukurnya aku dipertemukan dengan mereka bertiga. Sesosok yang menghiburku hingga seringkali aku harus meneteskan airmata karena bahagiannya aku.

Setelah hampir empat tahun ini aku bersama mereka dan tinggal menunggu waktu tuk wisudaku. Harapanku adalah aku tetap bisa bersama mereka. Sosok hebat yang selalu mengagumkan, menjengkelkan, dan menarik.

Bila boleh aku meminta… aku tak ingin waktu berputar cepat. Aku tak ingin dipisahkan oleh pahlawan, keluarga, saabatku. Kalian bertiga yang selalu mengisi kekosongan dalam hidupku. Thanks All. 

#P.M #M.R #A.W.U.Z

 

Ketenanganku Karena Dekat denganNYA

Standar

Saat-saat aku meneteskan mata karena sebuah hal tak berguna utamanya soal asmara adalah sebuah kebodohan.

Doa ini teruntuk pada pribadi agar senangtiasa dijauhkan pada segala keburukan dan didekatkan pada segala kebaikan.

 

Menjadi seorang wanita, Salahkah?

Tak ada yang pernah salah, kita dilahirkan menjadi seorang wanita karena semua telah  menjadi hal terbaik yang diberikan Gusti Allah.

 

Hai Sahabatiku..

Kita adalah seorang wanita. Segala pilihan ada ditangan kita termasuk soal asmara.

Banyak Adibah temui dan bahkan pernah saya rasakan sendiri. “Jatuh Cinta pada seorang Pria”, Salahkah?

Tak ada yang salah apabila kita jatuh cinta pada seorang laki-laki. yang salah adalah ketika seorang perempuan memaksakan diri untuk diterima oleh seorang laki-laki yang bukan mahram.

 

Sahabatiku…

Melalui sedikit tulisan ini, Adibah hanya mengajak kepada sahabatiku agar kita senantiasa menjaga apa yang memang harus kita jaga. Jaga kita dari Zina. Ingat… di dunia ini wanita sholehah adalah sebaik-baik perhiasan dunia.

Keep Fight untuk menjadi lebih baik lagi.

Yuk saling mengingatkan untuk menjadi wanita yang hebat khususnya disisi Ibadah kepada Allah. Ingat…jodoh kita adalah cerminan diri kita..

yuk berubah sedikit demi sedikit.. semoga gusti Allah selalu menuntun kita kepada kebaikan.

#bersambung

 

Note: Adibah Husna

Cinta, kasih, dan Rinduku

Standar

img_4808

Cinta hanyalah secuil kata. Yang membuat berat hati adalah karena adanya pertemuan, karena tiap ada pertemuan akan ada sebuah perpisahan. 10 Januari 2017,  pertemuan ini yang memberatkan karena dihujung pandang terlihat meski masih samar akan adanya perpisahan. Kata rindu pasti kan terasa tiap saat aku terbangun dalam lamunan.

Kuliah Kerja Nyata (KKN) tahun 2017. Di mana cinta itu tumbuh, harapan dan kerinduan tiap waktu membuat tak mampu akan berpisah. Bagaimana mungkin aku dapat berpindah meninggalkan kenangan yang membuatku jatuh hati? Mungkinkah rinduku masih bertahan dalam perpisahan? Kini rasaku makin mengucur tak tertahankan, saat-saat kekaburan lalu telah jelas dipelupuk mata. “perpisahan”, berat rasa hati meninggalkan cinta, kasih, dan rinduku di sini. Terbuai dalam masa depan akan perjuangan yang harus diraih.

Cinta, kasih, dan Rinduku teruntuk pada kalian posko 35, 34, dan 36. Keluarga besar KKN 2017 Desa Karangmojo. Kuatkah perpisahan ini terlewati?. Harapan ini masih saja terngiang. Seorang keluarga tetaplah keluarga. Desa di seberang bukanlah hambatan. Meski jarak dan waktu memisahkan, namun silaturahim tetap berpegang teguh.

Cinta, kasih, dan rinduku pada kalian karena telah menjadi guru, ustadz/ ustadzah yang memberikan cambuk pelajaran yang tiada dapat ternilai.

Cinta, kasih, dan rinduku pada kalian karena telah menjadi motivator dalam aku melangkah, dari dalam diam menjadi seorang manusia yang lebih manfaat.

Cinta, kasih, dan rinduku pada kalian sahabat-sahabatku. Semoga Allah mempertemukan kita disyurga Allah kelak, dan Allah menjaga kalian dari segala yang haram, dan mendekatkan kalian pada sesuatu yang diridhoi Allah dan bermanfaat untukmu, Sahabat-sahabatku.

Cinta, kasih, rindu, dan Doa’ku pada kalian.

Syukron untuk 45 hari yang bermanfaat ini…

 

Note: Adibah Husna 20 Februari 2017

 

“Michael Theodric Menangkan Lomba Fotografi Internasional”

Standar

Michael Theodric, seorang anak pemenang kontes fotografi “The Children Eyes on Earth”di Azerbaijan tahun 2012 dan telah meraih penghargaan kategori lingkungan dalam Sony World Photography Award pada 2014.

michael

Foto “Morning at Situ Gunung”, merupakan gambar yang diambil di lokasi Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia. Foto ini menggambarkan pemancing yang sedang melempar jala ke danau yang diimbangi dengan keindahan cahaya matahari pagi.

 

Sumber:   bbc.com

childrenseyesonearth.org

 

 

 

 

kata juang

Standar

Kata Juang

Indahnya menghirup udara dikota kecil ini. Kutatap bangunan di mana kini aku akan berkuliah. Ospek bahkan keliling kampus telah aku lakukan. Air mata kini jatuh, tak percayaakan kehidupan ini. Aku benar-benar menjadi mahasiswa. Sebuah hal besar aku coba lalui. Di mana aku harus berjuang dari SMA dulu.

Bersyukurnya aku mengenal mereka, yang mengajarkanku untuk berani bermimpi. Berani untuk menggapai impian dengan berani memimpikannya. Dulu aku seperti gila, menulis pada dinding kamarku, keinginanku untuk berkuliah, punya laptop, motor, mobil, dan haji untuk orang tuaku. Kini satu tagetku aku capai. Berkuliah di universitas ini. Meski tak terbaik, tapi ini adalah jalan Tuhan untukku.

Satu tahun lalu, aku bekerja di pabrik roti di daerah dulu aku tinggal. Tiap jam istirahat kala teman-temanku menggunakkan jam istirahat itu untuk tidur, aku menulis dan mengingat dengan angan-angan akankah bisa aku menjadi mahasiswa. Aku mencoba membuka banyak peluang, dengan berbisnis, dengan bekerja. Tapi pada akhirnya satu langkah awalaku gagal. Saat itu aku pikir betapa bodohnya   aku ini. Di saat aku tak punya uang lagi untuk mendaftar kuliah, aku salah mengisi draf-draf untuk mendaftar.

  • Kerja

Taukah engkau, saat itu, begitu gila, stressnya aku. Orang-orang tau bahwa aku kan berkuliah. Tapi satu langkah awalaku gagal. “tuhan apa ini bukan jalanku untuk berkuliah?” aku menjerit dalam hati. Waktu berlalu, aku benar-benar tak punya uang untuk mendaftar lagi, hingga pendaftaran mahasiswa di universitas yang aku inginkan telah ditutup. Begitu bodohnya aku.

Aku bercerita pada seseorang yang dulu spesial dalam hidupku. Dia memberikan pendapatnya, agar aku terus berkuliah, dan terus meminta pada-Nya. Aku melakukannya. Dan taukah kau ,Tuhan mengabulkan doaku. Terimakasih Tuhan. Seorang teman memberikan kabar, bahwa Universitas yang aku inginkan, ada perpanjangan pendaftaran lagi.“Tuhan inikah jawaban dari pertanyaanku.”

Ya, dibalik kesenangan ada saja hambatan. Satu masalah lagi, aku tak ada sepeserpun uang untuk mendaftar. Dikala itu, aku teringat sebuah ucapan yang sangat berarti untuk hidupku hingga saat ini. Sebuah ucapan sederhana dari guru BK (bimbingan konseling) saat SMA. “ketika kamu tak berani untuk melangkah maka kamu takakan pernah bisa untuk mengubah nasip keluargamu. Kalau tidak dimulai dari kamu, mau dimulai dari mana keberhasilan keluargamu.”

Aku bercerita dengan guruku. Dan betapa indahnya hidup ini, beliau mau membantuku untuk membayar biaya pendaftaran.Ya Allah, tuhanku. Terimakasih.

Satu bulan lebih aku hidup di Salatiga. Aku ijin tiap kali aku berangkat dari rumah, kalau aku akan bekerja dan beberapa hari baru akan pulang. Kala itu keterpaksaanku membuatku untuk terus berbohong pada ayahku. Aku hanya masih terlalu takut akan berbagai ucapan yang dilontarkan padaku dan kakakku. Aku tak boleh kuliah. Entah… pandangan ayah dan orang di sekitar rumahku memandang kalau kuliah bukanlah hal yang penting dalam hidup.

Hingga di penghujung bulan Oktober, beliau tau kalau anak keduanya ini telah berkuliah. Kala itu aku takut, menangis, sedih, dan aku hanya berpikir untuk mundur. Tapi lagi-lagi semangat dari mereka orang-orang yang mendukungku terus terngiang dalam telingaku. Aku memutuskan tetap melangkah.

Satu bulan lebih aku tak pulang, aku kesepian, kelaparan, dan kebingungan terus berputar-putar dalam pikiranku. Apakah ini hanya cobaan, atau cerita-cerita yang akan aku lalui dalam kesuksesanku.

Tepat pada tanggal 3 Desember 2013, aku mendapatkan pekerjaan di Kampung Kopi Banaran, Bawen. Meski gaji Cuma 25 ribu saja, aku sangat bersyukur. Aku kerja tiap hari sabtu dan minggu, terkadang aku membolos kuliah karena tidak punya uang dan bekerja. Hal bodoh mungkin, tapi itulah aku.

Pada tanggal 20 Mei 2014, kakakku menikah. Dan pada bulan itu pula, aku benar-benar lepas, tidak ada yang membiayaiku. “bagaimana ini, ya Allah”. Kebingungan ini terus saja menghantuiku, aku harus mencari uang untuk makan, untuk transport, untuk membayar kuliah. Saat itu aku hanya meminta pada-Nya, mudahkan aku ya Allah.

Pada bulan September aku pindah dari Ma’had ke kos di Pengilon. Begitu banyak pertimbangan aku ke sana, selain lebih murah, di sana ada kawanku Ana.

Dua bulan berlalu, semakin lama terjadi keganjilan. Aku tidak tahan di sini. Kenapa teman-teman kos menjadi begitu aneh, dan begitu menyebalkan. Tuhan…apalagi ini?

Tepat pada tanggal 3 Maret aku resmi pindah ke Pondok Darul Husna Blotongan. Pondok sederhana ini baru saja di bangun, santrinya pun masih 4 orang. Di sana aku belajar, sholat jamaah (Maghrib, Isya’, dan Subuh), di sana pula aku mengabdi di TPQ.

Tidak semudah yang aku pikirkan berada di pondok pesantren ini. Aku harus membagi kuliah, organisasi, kerja, dan kewajiban pondok. Aku begitu banyak belajar ya Allah.

Sampai hari ini aku, menjalani kehidupanku dengan begitu saja. Masih begitu banyak target yang ingin aku capai. Dan dengan ilmu Man Jadda Wajada, insyaAllah aku bisa.